Tag Archive: kontemporer


Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni pertunjukan Wayang Beber tidak terhenti hanya terbatas pada pertunjukan dengan gaya tradisi lama. Berbagai pengembangan dilakukan untuk pertunjukan Wayang Beber, dari yang berbentuk alternatif hingga kontemporer. Pengertian kontemporer disini seperti menghubungkan masa lalu yang kemudian mencoba untuk memaknai kekinian dan merefleksikannya ke masa depan, menjadi semacam jembatan untuk memahami masa lalu juga.

Pembaharu seni Wayang Beber yang masuk dalam pengembangan Wayang Berber kontemporer adalah Wayang Beber Kota yang berada di Solo dan Komunitas Wayang Beber Metropolitan yang berada di Jakarta. Wayang Beber dengan bentuk kontemporer pertama kali diprakarsai oleh Dani Iswardana dengan Wayang Beber Kota yang dibawanya.

Cerita yang dibawakan dalam pementasan tidak lagi menggunakan Panji itu sebagai sebuah narasi penceritaan, tapi hanya spirit Panji itu masih melekat dalam bentuk gambar dan penceritaannya. Karena pesan tentang Panji itu adalah hilangnya cinta kasih, lalu mencoba untuk bangkitkan hal itu melalui sebuah kesadaran kritik sosial. Seperti hilangnya pasar tradisi yang diganti dengan mal yang lebih kearah sosial. Cerita tersebut adalah hal tentang hilangnya cinta kasih itu yang diingatkan untuk di bangkitkan kembali.

Memahami persoalan Panji itu dalam konteks ekspresi nusantara, dimana sebuah kebudayaan yang masuk itu justru menyatu terjadi  akulturasi dan tidak menggagu, sehingga terjadi sebuah ekspresi baru, artinya bahwa semangat dari Panji itu masih bisa di aktualialisasikan dikomunikasikan dalam konteks masa kini melalui media-media yang  lain. Panji dapat dimaknai sebagai cinta yang hilang lalu kita bisa membuat itu dalam ekspresi media.

Pada dasarnya wayang beber dalam cerita panji itu bercerita tentang pencarian identitas jati diri ini saya tekankan lagi bahwasanya melalui modernisasi justru bagaimana kita berkembang dengan akarnya untuk menemukan identitas dan karakteristik diri bangsa itu inginnya selalu ditekankan di situ, bukan justru lepas dari tradisi atau akar.

Iklan

Awal mula pewayangan adalah Wayang Watu (batu) pada abad ke 9, atau wayang yang terukir pada dinding relief candi-candi,  kemudian berkembang menjadi wayang rontal. Hal ini terdapat pada Serat Sastramiruda tertulis Sengkalan Gambaring Wayang Wolu, yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi.

"ukiran relief pada candi-candi"

Kemudian asal-usul Wayang Beber dimulai sejak zaman Kerajaan Jenggala pada tahun 1223 M, walaupun bentuknya semula masih belum sempurna seperti wayang beber, tetapi pada masa Jenggala dimulai adanya perkembangan Wayang Beber. Bentuk Wayang Beber masih berupa gambar-gambar pada daun siwalan atau rontal atau lontar.

"ukiran wayang yang tergambar pada daun rontal"

Kemudian ketika Raja Prabu Suryahamiluhur menjadi Raja Jenggala dan memindahkan keraton ke Pajajaran di Jawa Barat, dia membuat kontribusi besar untuk perkembangan cerita Wayang Purwa yang di goreskan pada kertas yang terbuat dari kulit kayu. Disinilah awal dari pemakaian kertas untuk Wayang Beber pada tahun 1244 M. Kertas itu berwarna agak kekuningan dan disebut dlancang gedog. Gambar-gambar diatas kertas tersebut dapat dibuat lebih besar dan lebih jelas juga ditambahkan ornament-ornamen, tetapi gambar-gambar tersebut masih dilukiskan dengan warna hitam dan putih.

Pada masa Majapahit, ketika Jaka Susuruh menjadi raja Majapahit di Jawa Timur pada tahun 1316 M, gulungan kertas wayang tersebut disetiap ujungnya diberikan tongkat kayu panjang yang digunakan untuk menggulung cerita atau memperlihatkan cerita selanjutnya. Tongkat kayu tersebut  dapat dipegangi dengan tangan selama penceritaan atau pun dimasukkan kedalam lubang yang disiapkan di kotak kayu tersebut. Saat itu orang-orang mulai menyebutnya sebagi wayang beber (beber yang berarti membentangkan dan juga menyingkap atau menjelaskan), yang hingga saat ini menjadi nama untuk jenis wayang beber.

Ketika pemerintahan Raja Brawijaya V (sekitar tahun 1378 M), sang raja memerintahkan anaknya yang ke tujuh, Raden Sungging Prabangkara untuk belajar wayang dan juga untuk menciptakan Wayang Beber Purwa yang baru. Bentuk yang baru tersebut menggunakan beberapa macam warna, tidak seperti aslinya yang hanya berwarna hitam dan putih. Dalam pelukisannya dapat dengan jelas membedakan antara raja dengan para punggawa. Raja Brawijaya juga memerintahkan anaknya untuk membuat tiga set cerita yang terpisah, sebuah cerita ‘Panji di Jenggala’, cerita ‘Jaka Karebet di Majapahit’ dan satu lagi cerita ‘Damarwulan’. Gambar yang terlukis dalam gulungan wayang beber itu bentuk wayangnya masih sama seperti yang terlihat pada wayang beber di Bali pada saat ini.

Pada masa Kerajaan Demak tahun 1518 M, ketika itu mulai timbul kerajaan Islam di Jawa dan mulai terjadi perubahan yang menentukan perkembangan wayang beber di masa selanjutnya. Gambar-gambar yang ada di dalam wayang beber masih melukiskan karakter dengan bentuk asli tubuh manusia. Hal tersebut dilarang dalam hukum fikih didalam Islam. Lalu utusan-utusan Islam dan juga para Wali membicarakan tentang cara terbaik untuk memodifikasi bentuk wayang tersebut, karena di lain pihak wayang tersebut dapat terus berlanjut dan dikembangkan, juga bisa menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat-saat itu pula Sunan Ratu Tunggul mengembangkan cerita Panji untuk wayang gedog. Pembaharuan bentuk wayang yang diprakarsai oleh para Wali, yaitu dengan melakukan stilisasi atau distorsi sehingga bentuk wayang yang semula realistis menjadi simbolik. Proporsi tubuh dan wajah wayang, tidak lagi menurut anatomi tubuh dan wajah manusia sewajarnya. Bentuk-bentuk simbolik pewayangan yang tercipta pada zaman Kesultanan Demak itulah yang menjadi model pertama (prototype) bentuk-bentuk simbolik pewayangan masa kini.

Ketika masa Kerajaan Kartasura tahun 1690 M, di bawah pemerintahan Mangkurat II di Kartasura, gambar Wayang Beber diciptakan kembali dengan lakon Joko Kembang Kuning. Cerita itu mencapai enam gulungan kertas dan pembuatannya selesai pada tahun 1692 M. Selain itu pada masa Raja Pakubuwana II di Kartasura, juga dibuat wayang beber dengan siklus panji dengan lakon Jaka Kembang kuning dan juga Remeng Mangunjaya yang selesai dibuat pada tahun 1735 M. Kemudian ketika masa pemerintahan Paku Buwana II, terdapat pemberontakan China dimana saat itu Keraton yang berada di Kartasura dapat dikuasai oleh musuh. Ketika dilakukan evakuasi, anggota kerajaan juga membawa semua benda-benda pusaka termasuk perlengkapan wayang beber Joko Kembang kuning. Sebagian dari wayang beber ini menghilang di daerah Gunungkidul, Wonosari dan sebagian lagi berada di desa Karangtalun, Pacitan yang hingga saat ini masih dipegang dari generasi ke generasi secara turun menurun.

"Wayang Beber Pacitan"

Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni pertunjukan Wayang Beber tidak terhenti hanya terbatas pada pertunjukan dengan gaya tradisi lama. Berbagai pengembangan dilakukan untuk pertunjukan Wayang Beber, dari yang berbentuk alternatif hingga kontemporer. pergelaran Wayang Beber yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 29 September 1997 di gedung Purna Budaya, Bulaksumur. Gawang kelir digunakan untuk membentangkan gulungan kain bergambar wayang beber memberikan perspektif baru secara visual pada bentuk pertunjukan Wayang Beber. Instrumen dan gendhing iringannya juga berbeda, karena menggunakan seperangkat gamelan ageng berlaras pelog dan slendro seperti dalam pertunjukan Wayang Kulit ditambah dengan instrumen lain yaitu keyboard. Demikian pula tata lampunya juga sudah digarap sebagaimana kemasan seni pertunjukan di panggung. Tampil sebagai Dalang adalah Ki Edy Suwondo, mencoba untuk menghidupkan gambar wayang beber yang statis itu kedalam penceritaan.

Dalang Musyafiq juga melakukan pertunjukan Wayang Beber bentuk alternatif dengan cerita Wayang Beber dari Pacitan. Dalam pementasan Wayang Beber tersebut Musyafiq menggunakan tiga cara pementasan Wayang Beber sekaligus yaitu: cara Pacitan, Wonosari, serta cara Musyafiq sendiri. Pertunjukan itu adalah versi pementasan Wayang Beber yang di buat sendiri oleh Musyafiq. Dalam pementasan Wayang Beber tersebut, Musyafiq tidak mengikutsertakan alat musik gamelan seperti yang seharusnya ada dalam pementasan Wayang Beber seperti kendang, rebab, demong, kempul dan paron. Musafiq menggunakan alat musik modern berupa keyboard dan dua penyanyi sebagai sinden dan penyanyi latar. Menurut Musafiq, penggunaan alat modern tersebut dalam rangka penyesuaian dengan keadaaan dan situasi masa kini. Keyboard yang digunakan Musafiq untuk memainkan musik campursari populer.

pementasan wayang beber alternatif oleh Dalang Musyafiq

Kemudian pertunjukan Wayang Beber Kontemporer diawali  oleh Wayang Beber Kota yang digagas oleh Dani Iswardana tersebut terjadi pada 14 Februari tahun 2005 dan pentas pertama kali di balai Soedjatmoko kota Solo dalam acara Menggambar Perubahan Solo. Cerita yang dibawakan dalam pementasan tidak lagi menggunakan Panji itu sebagai sebuah narasi penceritaan, tapi hanya spirit Panji itu masih melekat dalam bentuk gambar dan penceritaannya. Karena pesan tentang Panji itu adalah hilangnya cinta kasih, lalu mencoba untuk bangkitkan hal itu melalui sebuah kesadaran kritik sosial. Seperti hilangnya pasar tradisi yang diganti dengan mal yang lebih kearah sosial. Cerita tersebut adalah hal tentang hilangnya cinta kasih itu yang diingatkan untuk di bangkitkan kembali.

penampilan Wayang Beber Kota di Solo oleh Dalang Adam Ghifari

Bentuk lain pertunjukan Wayang Beber Kontemporer juga dilakukan oleh Komunitas Wayang Beber Metropolitan di Jakarta. Pengembangan yang dilakukan disesuaikan dengan kehidupan metropolitan di Jakarta yang menawarkan berbagai hiburan dan kesenian yang beragam bagi warganya. Komunitas ini mencoba untuk memunculkan fenomena metropolitan yang ada kedalam bentuk karya seni pertunjukan Wayang Beber Kontemporer dan mencoba untuk menjawab permasalahan isu-isu perkotaan tetapi dengan bentuk kesenian.

Tanggal 14-11-2011, Wayang Beber Metropolitan mendapatkan kesempatan untuk membeberkan cerita yang berjudul “ Kabut Hitam di Desa Temu Kerep “ dalam sebuah acara diskusi,yang mengupas tentang Serat Darmawangsa. Dimana 1000 th yang lalu di alun alun Kediri untuk yang pertama kalinya Serat Darmawangsa dibacakan. Renaisans yang muncul pada masa Dinasti Dharmawangsa ini sangat erat sekali dengan spirit Panji,sebuah proses pencarian jati diri pada masa itu. Sebuah pencerahan dari pengembaraan yang akhirnya menjadi pijakan perkembangan budaya saat itu,salah satunya adalah Wayang Beber.

Sebelum diskusi berjalan,kami diijinkan untuk membentangkan wayang beber Metropolitan. Sebuah gambar yang berisi memory kolektive abad 21 ini,berbaur dengan sastra dan tutur. Bpk Taufik Rahzen sepertinya ingin mengulang kembali 1000 yang lalu dengan rentetan peristiwa yang sudah berbeda. Kami Wayang Beber Metropolitan menjadi media layaknya Serat Dharmawangsa 1000 yang silam. Membeberkan kejadian kejadian sosial yang terkadang lepas dari pengamatan kita.

 

Gulungan wayang beber terpanjang di Indonesia, sepanjang 60m di samping karya wayang beber metropolitan

Gulungan wayang beber terpanjang di Indonesia, sepanjang 60m di samping karya wayang beber metropolitan

Penjelasan sedikit tentang Wayang  Beber Metropolitan dan sejarah singkat wayang beber oleh dintan putri

Penjelasan sedikit tentang Wayang Beber Metropolitan dan sejarah singkat wayang beber oleh dintan putri

DSC_4354

Dalang sedang menceritakan kisah wayang beber metropolitan

Dalang sedang menceritakan kisah wayang beber metropolitan

DSC_4361

 

Pementasan Waybemetro di Acara Sirat Serat Dharmawangsa

Pementasan Waybemetro di Acara Sirat Serat Dharmawangsa

Dalam Event Festival Wayang Indonesia 2011 kali ini, kami berkesempatan untuk mengisi pada pembukaan acara Festival Wayang Indonesia 2011 di Ruang Serbaguna Museum Wayang. Walau waktu pementasan dibatasi hanya 15 menit, tapi pementasan pada pembukaan event ini berlangsung ramai dan penonton pun senang dengan adegan-adegan tambahan pada menit-menit akhir pementasan kami.

Persiapan pementasan singkat pun kami lakukan, seluruh team Wayang Beber Metropolitan merasa lebih tegang ketika bersiap-siap di balik layar. Karena yang kami hadapi adalah pembukaan event Festival Wayang Indonesia 2011, dan hanya dengan durasi waktu yang singkat tetapi kami harus tetap bisa membuat penonton bisa terhibur.

Hingga para tamu berdatangan masuk kedalam ruang sebaguna Museum Wayang, untuk pembukaan dan juga press conference setelah acara pembukaan berlangsung.

Pementasan kami pun dimulai, dan ketegangan teman-teman dalam team pertunjukan pun berlangsung cair, sehingga pementasan dapan berjalan dengan lancar.

 

Dalam Event Batavia Ert 2011, kami kembali diajak kerjasama oleh Museum Wayang untuk mengisi Booth yang ada dalam event Batavia Art Festival 2011 di Taman Fatahillah. Berbagai komunitas kesenian di Jakarta ikut berkecimpung dalam kegiatan yang diadakan oleh MuseuM Fatahillah. Event ini berlangsung selama dua hari dan sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai kalangan.

Tema booth kami masih khas dengan perkembangan wayang beber dari yang tradisi sampai kontemporer. Walaupun terkesan seperti pameran mini, tapi semua informasi tentang perkembangan wayang beber ada didalamnya.

Selama pameran di dalam booth, kami juga mengadakan workshop menggambar dan mewarnai wayang beber kontemporer khusus untuk adik-adik yang datang berkunjung. Kami senang melihat adik-adik dapat menggambar bersama, saling berbagi pensil warna bersama tanpa ada rasa perbedaan diantara mereka. Adik-adik yang ikut dalam workshop ini ada yang datang dari rombongan sekolah, ada yang datang bersama orangtuanya yang memang saat itu sedang berjalan-jalan di Kota Tua, dan ada juga adik-adik pengamen cilik dan beberapa adik-adik yang kurang beruntung dalam hal perekonomian mereka. Tapi mereka semua melebur menjadi atu dan bergembira bersama selama workshop menggambar dan mewarnai wayang beber berlangsung. Berikut adalah beberapa foto kegiatan tersebut.

Setelah mengadakan workhop menggambar wayang beber bersama, kami juga bernyanyi bersama adik-adik dan membuat suasana pada siang yang panas menjadi lebih ceria dan menyenangkan. Karena semua adik-adik ikut bernyanyi dengan gembira dan para pengunjung yang singgah karena kebetulan lewat booth kami pun ikut tertawa dan bergembira bersama.

Di malam hari, kami mengadakan pementasan Wayang Beber sederhana didalam booth kami. Ketika pentas di mulai, ada satu anak yang bernama Leica, dia mencoba untuk ikut mendalang bersama Dalang kami. Malam itu banyak adik-adik yang juga ikut menonton dan asyik mendengarkan cerita yang dituturkan oleh adik kecil kami Leica.

Malam itu juga terdapat acara penutupan event Batavia art di stage utama. Tapi tanpa terasa, pementasan sederhana Wayang Beber Metropolitannmalam itu di penuhi oleh pengunjung yang merasa senang melihat penampilan Dalang bersama adik kecil kami Leica.

Penutupan acara pada event Batavia Art Festival 2011 pada malam itu berlangsung sederhana  tapi sangat meriah, dalam arti semua adik-adik adn pengunjung dapat bergembira bersama dan pulang tanpa ada rasa beban karena telah diringankan dengan pementasan yang berlangsung pada malam itu. Kami pun bersuka cita karena kami juga merasakan hal yang sama dan senang dapat lebih menceriakan suasana pada malam itu.