14 Juli 2012 di halaman Museum Fatahilah, kawasan Kota Tua Jakarta diselengarakan Festifal Wayang Indonesia. Acara tahunan ini melibatkan para seniman yang menggeluti pertunjukan Wayang. Wayang kulit dengan cerita klasik selalu hadir, ibarat ibu yang senantiasa mendampingi munculnya perkembangan kesenian wayang di Indonesia. Salah satunya kami Wayang Beber Metropolitan,yang kali itu mendapat kesempatan untuk ikut dalam Festifal Wayang Indonesia. Ini adalah keterlibatan kami yang pertama dalam sebuah event kesenian yang lumayan besar. Dalam Festifal ini kami membawakan sebuah cerita yang berjudul “Pasare bubar…Kerene Buyar

Pasare bubar, kerene buyar menceritakan tentang fenomena tergerusnya pasar-pasar traditional di negeri ini. Pasar tradisi yang dinilai kumuh mulai tergeser dan digantikan dengan berdirinya Mall.

Suasana demi suasana dalam cerita ini dibangun dengan gamelan piring gembreng dan didukung beberapa alat musik, seperti gitar, kencrung dan kendang. Kami sengaja mendekatkan pukulan piring gembreng dengan cerita yang kami tuturkan. Tatkala ruang ekonomi masyarakat  kecil terombang-ambing karena berbagai kepentingan, tidak menutup kemungkinan kelak piring gembreng kosong yang akan berbunyi bertalu talu. Dengan gamelan piring gembreng yang kami pukul layaknya pukulan orang yang sedang ronda malam, kami ingin mengajak masyarakat untuk mau mengingat kembali tentang bahayanya krisis pangan. Karena bangsa kita yang katanya bangsa maritime dan agraris ini sudah lupa melaut dan lupa menanam.

DSC_0148DSC_0160DSC_0167DSC_0212DSC_0241DSC_0275IMG_2372

Iklan