Archive for April, 2012


Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni pertunjukan Wayang Beber tidak terhenti hanya terbatas pada pertunjukan dengan gaya tradisi lama. Berbagai pengembangan dilakukan untuk pertunjukan Wayang Beber, dari yang berbentuk alternatif hingga kontemporer. Pengertian kontemporer disini seperti menghubungkan masa lalu yang kemudian mencoba untuk memaknai kekinian dan merefleksikannya ke masa depan, menjadi semacam jembatan untuk memahami masa lalu juga.

Pembaharu seni Wayang Beber yang masuk dalam pengembangan Wayang Berber kontemporer adalah Wayang Beber Kota yang berada di Solo dan Komunitas Wayang Beber Metropolitan yang berada di Jakarta. Wayang Beber dengan bentuk kontemporer pertama kali diprakarsai oleh Dani Iswardana dengan Wayang Beber Kota yang dibawanya.

Cerita yang dibawakan dalam pementasan tidak lagi menggunakan Panji itu sebagai sebuah narasi penceritaan, tapi hanya spirit Panji itu masih melekat dalam bentuk gambar dan penceritaannya. Karena pesan tentang Panji itu adalah hilangnya cinta kasih, lalu mencoba untuk bangkitkan hal itu melalui sebuah kesadaran kritik sosial. Seperti hilangnya pasar tradisi yang diganti dengan mal yang lebih kearah sosial. Cerita tersebut adalah hal tentang hilangnya cinta kasih itu yang diingatkan untuk di bangkitkan kembali.

Memahami persoalan Panji itu dalam konteks ekspresi nusantara, dimana sebuah kebudayaan yang masuk itu justru menyatu terjadi  akulturasi dan tidak menggagu, sehingga terjadi sebuah ekspresi baru, artinya bahwa semangat dari Panji itu masih bisa di aktualialisasikan dikomunikasikan dalam konteks masa kini melalui media-media yang  lain. Panji dapat dimaknai sebagai cinta yang hilang lalu kita bisa membuat itu dalam ekspresi media.

Pada dasarnya wayang beber dalam cerita panji itu bercerita tentang pencarian identitas jati diri ini saya tekankan lagi bahwasanya melalui modernisasi justru bagaimana kita berkembang dengan akarnya untuk menemukan identitas dan karakteristik diri bangsa itu inginnya selalu ditekankan di situ, bukan justru lepas dari tradisi atau akar.

Iklan

Awal mula pewayangan adalah Wayang Watu (batu) pada abad ke 9, atau wayang yang terukir pada dinding relief candi-candi,  kemudian berkembang menjadi wayang rontal. Hal ini terdapat pada Serat Sastramiruda tertulis Sengkalan Gambaring Wayang Wolu, yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi.

"ukiran relief pada candi-candi"

Kemudian asal-usul Wayang Beber dimulai sejak zaman Kerajaan Jenggala pada tahun 1223 M, walaupun bentuknya semula masih belum sempurna seperti wayang beber, tetapi pada masa Jenggala dimulai adanya perkembangan Wayang Beber. Bentuk Wayang Beber masih berupa gambar-gambar pada daun siwalan atau rontal atau lontar.

"ukiran wayang yang tergambar pada daun rontal"

Kemudian ketika Raja Prabu Suryahamiluhur menjadi Raja Jenggala dan memindahkan keraton ke Pajajaran di Jawa Barat, dia membuat kontribusi besar untuk perkembangan cerita Wayang Purwa yang di goreskan pada kertas yang terbuat dari kulit kayu. Disinilah awal dari pemakaian kertas untuk Wayang Beber pada tahun 1244 M. Kertas itu berwarna agak kekuningan dan disebut dlancang gedog. Gambar-gambar diatas kertas tersebut dapat dibuat lebih besar dan lebih jelas juga ditambahkan ornament-ornamen, tetapi gambar-gambar tersebut masih dilukiskan dengan warna hitam dan putih.

Pada masa Majapahit, ketika Jaka Susuruh menjadi raja Majapahit di Jawa Timur pada tahun 1316 M, gulungan kertas wayang tersebut disetiap ujungnya diberikan tongkat kayu panjang yang digunakan untuk menggulung cerita atau memperlihatkan cerita selanjutnya. Tongkat kayu tersebut  dapat dipegangi dengan tangan selama penceritaan atau pun dimasukkan kedalam lubang yang disiapkan di kotak kayu tersebut. Saat itu orang-orang mulai menyebutnya sebagi wayang beber (beber yang berarti membentangkan dan juga menyingkap atau menjelaskan), yang hingga saat ini menjadi nama untuk jenis wayang beber.

Ketika pemerintahan Raja Brawijaya V (sekitar tahun 1378 M), sang raja memerintahkan anaknya yang ke tujuh, Raden Sungging Prabangkara untuk belajar wayang dan juga untuk menciptakan Wayang Beber Purwa yang baru. Bentuk yang baru tersebut menggunakan beberapa macam warna, tidak seperti aslinya yang hanya berwarna hitam dan putih. Dalam pelukisannya dapat dengan jelas membedakan antara raja dengan para punggawa. Raja Brawijaya juga memerintahkan anaknya untuk membuat tiga set cerita yang terpisah, sebuah cerita ‘Panji di Jenggala’, cerita ‘Jaka Karebet di Majapahit’ dan satu lagi cerita ‘Damarwulan’. Gambar yang terlukis dalam gulungan wayang beber itu bentuk wayangnya masih sama seperti yang terlihat pada wayang beber di Bali pada saat ini.

Pada masa Kerajaan Demak tahun 1518 M, ketika itu mulai timbul kerajaan Islam di Jawa dan mulai terjadi perubahan yang menentukan perkembangan wayang beber di masa selanjutnya. Gambar-gambar yang ada di dalam wayang beber masih melukiskan karakter dengan bentuk asli tubuh manusia. Hal tersebut dilarang dalam hukum fikih didalam Islam. Lalu utusan-utusan Islam dan juga para Wali membicarakan tentang cara terbaik untuk memodifikasi bentuk wayang tersebut, karena di lain pihak wayang tersebut dapat terus berlanjut dan dikembangkan, juga bisa menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat-saat itu pula Sunan Ratu Tunggul mengembangkan cerita Panji untuk wayang gedog. Pembaharuan bentuk wayang yang diprakarsai oleh para Wali, yaitu dengan melakukan stilisasi atau distorsi sehingga bentuk wayang yang semula realistis menjadi simbolik. Proporsi tubuh dan wajah wayang, tidak lagi menurut anatomi tubuh dan wajah manusia sewajarnya. Bentuk-bentuk simbolik pewayangan yang tercipta pada zaman Kesultanan Demak itulah yang menjadi model pertama (prototype) bentuk-bentuk simbolik pewayangan masa kini.

Ketika masa Kerajaan Kartasura tahun 1690 M, di bawah pemerintahan Mangkurat II di Kartasura, gambar Wayang Beber diciptakan kembali dengan lakon Joko Kembang Kuning. Cerita itu mencapai enam gulungan kertas dan pembuatannya selesai pada tahun 1692 M. Selain itu pada masa Raja Pakubuwana II di Kartasura, juga dibuat wayang beber dengan siklus panji dengan lakon Jaka Kembang kuning dan juga Remeng Mangunjaya yang selesai dibuat pada tahun 1735 M. Kemudian ketika masa pemerintahan Paku Buwana II, terdapat pemberontakan China dimana saat itu Keraton yang berada di Kartasura dapat dikuasai oleh musuh. Ketika dilakukan evakuasi, anggota kerajaan juga membawa semua benda-benda pusaka termasuk perlengkapan wayang beber Joko Kembang kuning. Sebagian dari wayang beber ini menghilang di daerah Gunungkidul, Wonosari dan sebagian lagi berada di desa Karangtalun, Pacitan yang hingga saat ini masih dipegang dari generasi ke generasi secara turun menurun.

"Wayang Beber Pacitan"

Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni pertunjukan Wayang Beber tidak terhenti hanya terbatas pada pertunjukan dengan gaya tradisi lama. Berbagai pengembangan dilakukan untuk pertunjukan Wayang Beber, dari yang berbentuk alternatif hingga kontemporer. pergelaran Wayang Beber yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 29 September 1997 di gedung Purna Budaya, Bulaksumur. Gawang kelir digunakan untuk membentangkan gulungan kain bergambar wayang beber memberikan perspektif baru secara visual pada bentuk pertunjukan Wayang Beber. Instrumen dan gendhing iringannya juga berbeda, karena menggunakan seperangkat gamelan ageng berlaras pelog dan slendro seperti dalam pertunjukan Wayang Kulit ditambah dengan instrumen lain yaitu keyboard. Demikian pula tata lampunya juga sudah digarap sebagaimana kemasan seni pertunjukan di panggung. Tampil sebagai Dalang adalah Ki Edy Suwondo, mencoba untuk menghidupkan gambar wayang beber yang statis itu kedalam penceritaan.

Dalang Musyafiq juga melakukan pertunjukan Wayang Beber bentuk alternatif dengan cerita Wayang Beber dari Pacitan. Dalam pementasan Wayang Beber tersebut Musyafiq menggunakan tiga cara pementasan Wayang Beber sekaligus yaitu: cara Pacitan, Wonosari, serta cara Musyafiq sendiri. Pertunjukan itu adalah versi pementasan Wayang Beber yang di buat sendiri oleh Musyafiq. Dalam pementasan Wayang Beber tersebut, Musyafiq tidak mengikutsertakan alat musik gamelan seperti yang seharusnya ada dalam pementasan Wayang Beber seperti kendang, rebab, demong, kempul dan paron. Musafiq menggunakan alat musik modern berupa keyboard dan dua penyanyi sebagai sinden dan penyanyi latar. Menurut Musafiq, penggunaan alat modern tersebut dalam rangka penyesuaian dengan keadaaan dan situasi masa kini. Keyboard yang digunakan Musafiq untuk memainkan musik campursari populer.

pementasan wayang beber alternatif oleh Dalang Musyafiq

Kemudian pertunjukan Wayang Beber Kontemporer diawali  oleh Wayang Beber Kota yang digagas oleh Dani Iswardana tersebut terjadi pada 14 Februari tahun 2005 dan pentas pertama kali di balai Soedjatmoko kota Solo dalam acara Menggambar Perubahan Solo. Cerita yang dibawakan dalam pementasan tidak lagi menggunakan Panji itu sebagai sebuah narasi penceritaan, tapi hanya spirit Panji itu masih melekat dalam bentuk gambar dan penceritaannya. Karena pesan tentang Panji itu adalah hilangnya cinta kasih, lalu mencoba untuk bangkitkan hal itu melalui sebuah kesadaran kritik sosial. Seperti hilangnya pasar tradisi yang diganti dengan mal yang lebih kearah sosial. Cerita tersebut adalah hal tentang hilangnya cinta kasih itu yang diingatkan untuk di bangkitkan kembali.

penampilan Wayang Beber Kota di Solo oleh Dalang Adam Ghifari

Bentuk lain pertunjukan Wayang Beber Kontemporer juga dilakukan oleh Komunitas Wayang Beber Metropolitan di Jakarta. Pengembangan yang dilakukan disesuaikan dengan kehidupan metropolitan di Jakarta yang menawarkan berbagai hiburan dan kesenian yang beragam bagi warganya. Komunitas ini mencoba untuk memunculkan fenomena metropolitan yang ada kedalam bentuk karya seni pertunjukan Wayang Beber Kontemporer dan mencoba untuk menjawab permasalahan isu-isu perkotaan tetapi dengan bentuk kesenian.

Wayang Beber adalah suatu pertunjukan Wayang yang menggunakan gulungan gambar-gambar sebagai objek pertunjukan yang dipertunjukan dengan cara membentangkan gulungan gambar wayang beber tersebut. Gambar-gambar itu dilukiskan pada selembar kertas atau kain yang dibuat dari satu adegan menyusul adegan lain, berurutan sesuai dengan narasi cerita. Gambar Wayang Beber dilukis dengan teknik seni lukis tradisional, yang disebut sungging dengan cermat dan rumit. Gambar didalam gulungan tersebut biasanya terdiri atas empat adegan yang digulung dalam satu gulungan. Satu cerita Wayang Beber biasanya terdiri dari lima atau enam gulungan. Apabila akan dipertunjukkan, gambar-gambar cerita itu dibentangkan dari gulungannya. Gambar-gambar yang melukiskan cerita itu narasinya dituturkan satu demi satu oleh seorang dalang.

Pertunjukan Wayang Beber Tradisi yang masih ada saat ini masih dengan pakem tradisi yang kuat. Seperti halnya persyaratan untuk menjadi dalang Wayang Beber harus lah keturunan dari dalang sebelumnya. Selain itu harus memberikan berbagai sesaji sebelum dan selama pertunjukan Wayang Beber berlangsung dan tidak boleh dilanggar, karena dipercaya Wayang Beber peninggalan nenek moyang tersebut memiliki kekuatan magis. Cerita wayang dan musik iringannya pun tidak banyak berkembang sehingga setiap pertunjukan Wayang  Beber tradisi tersebut terkesan monoton tidak seperti Wayang Kulit yang terus mengalami perkembangan dan inovasi baru. Lambat laun keadaan Wayang Beber Tradisi menjadi semakin langka dan sudah jarang diketahui masyarakat menjadi kurang mendapat tempat di hati masyarakatnya. Dikarenakan sebagai seni pertunjukan, walau pun istimewa, Wayang Beber dimulai tidak lagi praktis dan tidak menarik karena hanya menceritakan gambar-gambar mati atau gambar yang tidak bergerak. Akibatnya, Wayang Beber yang pada masa lalu pernah popular dalam kehidupan masyarakat Jawa kini menjadi langka dan hampir punah

Walaupun keadaan Wayang Beber semakin langka, tetapi kini ada komunitas-komunitas pendukung seni pertunjukan Wayang Beber. Seni pertunjukan Wayang Beber ini, tidak seperti yang ada sebelumnya karena sudah terdapat perubahan-perubahan dari unsur gambar, cerita dan juga iringan musiknya sehingga bentuk pertunjukannya menjadi Wayang Beber Kontemporer. Seperti yang diakukan oleh Komunitas Wayang Beber Metropolitan yang ada di Jakarta.

Visi:

Komunitas Wayang Beber Metropolitan Berproses untuk membentuk pribadi yang lebih peduli, lebih peka terhadap kesenian dan kebudayaan di negara sendiri, khususnya bagi generasi muda.

 

Misi:

  • Mengenalkan kembali wayang beber kepada khalayak ramai dengan versi yang beru tetapi tidak meninggalkan akar budaya.
  • Menjalin dan memupuk rasa kekeluargaan didalam maupun diluar Komunitas Wayang Beber Metropolitan
  • Menciptakan karya yang mengangkat permasalahan yang sedang berlangsung dan disesuaikan dengan alam kekinian dengan kembali menelusuri kearifan lokal.
  • Membangun rasa kepedulian para generasi muda akan kekayaan budaya tanah airnya sendiri.

Awal terbentuknya komunitas Wayang Beber Metropolitan ini dimulai dari kegemaran kami terhadap seni, khususnya seni rupa (sketsa). Pada awalnya ada seorang teman kami yang pada tahun 2009 membuat sebuah karya wayang beber dan masing-masing dari kami ikut berpartisipasi dalam karya pertunjukan tersebut. Lalu atas dasar kegemaran kami dalam seni rupa,akhirnya kami tertarik untuk mulai berproses dalam pembuatan wayang beber. Banyak hal yang membuat kami tertarik tentang wayang beber ini, mulai dari cerita-ceritanya, cara menceritakan wayang wayang beber yang berbeda dengan wayang lainnya, karakter gambar yang ada didalam wayang beber, sampai pada esensi atau makna cerita panji dalam wayang beber yang bisa diaplikasikan dalam proses kehidupan. Karena merasa memiliki visi dan misi yang sama, akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah komunitas yang bernama “Wayang Beber Metropolitan”, yang mencoba untuk memunculkan fenomena metropolitan kedalam bentuk wayang beber.

Komunitas Wayang Beber Metropolitan ini dalam berkegiatan tidak hanya menggoreskan gambar wayang diatas kain, tapi kami bersama-sama membangun sebuah keluarga kecil dimana semua anggota dapat berpartisipasi didalamnya. Ada yang berpartisipasi dalam memainkan alunan musik, tarian, nyanyian, tehnik visual, dan yang terpenting ada menceritakan kisah dari wayang yang kami buat diatas lembaran kain, yaitu dalang. Walau kami semua masih sangat baru dalam bidang seni pertunjukan ini, tapi kami terus berproses bersama untuk dapat memberikan yang terbaik.

Wayang Beber Metropolitan merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa muda-mudi,belum banyak memiliki anggota. Komunitas ini juga biasa kami sebut dengan sappaan hangat yaitu “WBM.”Sebagian besar dari anggota kami kaum muda yang bersatu dari berbagai macam umur,pekerjaan bahkan tempat tinggal kami pun berbeda semua, tapi hati kami tetap satu untuk bisa berproses bersama, bisa dibilang Bhineka Tunggal Ika.

Wayang merupakan suatu yang mungkin terbilang langka bagi kaum muda di Jakarta yang notabennya “Kota Metropolitan”. Kami sehari-hari hidup dijakarta yang memiliki sejuta kesibukan, sejuta hal yang terus menerus berubah, tak ada yang pasti dan semua menjadi ruang relativitas. Maka untuk itu kami mencoba menjawab kegelisahan kami terhadap semua kejadian di kota kami tercinta ini dengan karya yang indah, bukan tindakan-tindakan yang anarkis.

Dengan warisan leluhur yang hampir punah, kami mencoba belajar sedikit-demi sedikit. Mengapa kami belajar? Karena kami bukan kaum muda yang memang sudah menggeluti dunia wayang sebelumnya. Ibarat bayi masih merah baru lahir, perlahan bisa diberi asi, bisa menangis, berjalan, dan tumbuh terus menjadi dewasa. Itulah kami yang dari titik nol tertarik pada seni budaya Wayang beber dan ingin mengenalkan pada khalayak ramai bahwa ada sebuah seni trasdisi yang hampir punah dan harus dilestarikan dan kami terus belajar.

Proses kami di Komunitas ini sedikit berbeda dari Wayang Beber Tradisi. Kami menyesuaikan dengan ruang kami yang berada di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, tetapi kami tidak meniggalkan pakem yang ada. Disini kami berproses dengan sepenuh hati dan kemampuan kami. Yang terpenting dalam proses ini adalah olah rasa dan kejujuran. Rasa saling memiliki selalu kami bina, rasa tepa salira,dll. Maka kami sudah menjadi sebuah keluarga kecil yang sedang berproses dan terus berproses.

Dalam komunitas ini tidak semua anggota harus bisa menggambar wayang karena sesungguhnya kami adalah wayang di dunia ini. Kami mengangkat esensi “perjalanan panji”, yang selalu mencari keseimbangan, yang selalu menebar rasa kasih sayang. Jadi disini kami bukan seolah-olah bertingkah laku menjadi seorang panji, melainkan mencari panji kami sendiri dalam kehidupan ini.Mungkin terkesan sedikit berat kalau kata anak muda zaman sekarang, tapi jika kita jujur menjalani proses ini, pasti akan menyenangkan. Seperti kami yang bisa bercerita, tertawa bersama, membuat karya bersama, proses kami terbilang masih baru, tapi kami akan terus belajar dan berproses.

Sebagai bentuk apresiasi bersama, maka kami membuat sebuah karya pertunjukkan wayang beber dengan tetap mempertahankan fungsi utama Wayang Beber sebagai pertunjukan yang di tonton oleh masyarakat tetapi juga memiliki tuntunan untuk dapat diikuti, Walaupun kami hanya sekelompok kecil, tapi ini adalah peran nyata kami sebagai generasi muda untuk  berapresiasi terhadap seni budaya bangsa. Dan kami berharap komunitas ini dengan media wayang beber dapat menjadi media lintas generasi untuk menyampaikan pesan-pesan positif sesuai dengan jamannya. Dan besar harapan kami dalam seni pertunjukan Wayang Beber ini, selain sebagai seni tradisi yang tertua di dunia pewayangan diharapkan dapat terus dilestarikan.